lapleng rheologi (2)

Download LAPLENG RHEOLOGI (2)

Post on 15-Oct-2015

101 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LABORATORIUM FARMASETIKAFAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS HASANUDDINLAPORAN LENGKAP ANGKATANRHEOLOGI

OLEH :

ASISTEN : SITTI NURLAELAHGOLONGAN SABTU SIANG

M A K A S S A R2 0 1 4

BAB IPENDAHULUANI.1 Latar BelakangPrinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan tinta,berbagai adonan, bahan-bahan pebuat jalan termasuk produk hasil peternakan serta bahan-bahan lain. Penyelidikan visikositas dari cairan sejati, larutan dan sistem koloid baik yang encer maupun yang kental, jauh lebih berlsifat praktis daripada bernilai teoritis serbuk. Belajar mengenai pentingnya rheologi dalam farmasi dan masyarakat penerapannya dalam permukaan dan analisis dari produk farmasi tersebut seperti emulsi, pasta dan penyaluran tablet. Sifat-sifat rheologi dari sistem farmasetik dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabrik. Rheologi meliputi campuran oleh aliran dari bahan, pemasukan kedalam wadah, pemindahan sebelum digunakan, apakah dicapai dari penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dapat mempengaruhi penerimaan obat oleh tubuh pasien. Sehingga dalam pembuatan sediaan farmasi perlu diketahui lebih dulu aliran dari senyawa yang akan dipakai. Karena ternyata viskositas mempengaruhi laju absorbsi obat dari saluran cerna.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan I.2.1 Maksud Percobaan Mengukur dan memahami viskositas suatu bahan dan tipe-tipe alirannya dari sedian-sedian farmasi I.2.2 Tujuan Percobaan Menentukan tipe-tipe aliran suatu bahan dan membuat kurva berdasarkan data yang diperoleh untuk menentukan tipe-tipe alirannya.I.3 Prinsip Percobaan Penentuan viskositas berdasarkan faktor koreksi dan deal reading terukur dari viskometer serta penentuan tipe-tipe aliran berdasarkan data dari tiap sediaan farmasi.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir dan logos berarti ilmu. Sehingga rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran zat cair dan deformasi zat padat. Rheologi erat kaitannnya dengan viskositas. Viskositas merupakan suatu persyaratan pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka semakin besar tahanannya untuk mengalir. Viskositas dinyatakan dengan simbol (1:827). Dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, lotion, pasta, penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi juga digunakan karakteristik induk sediaan farmasi (dosage formu) sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan, penuangan, pengeluaran dari tube atau pensetan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dari tubuh (bioavability), sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh (2:91). Viskositas (kekentalan) dapat dianggap sebagai gesekan dalam dalam suatu fluida. Karena adanya viskositas ini, maka untuk menggerakkan salah satu lapisan fluida diatas lapisan lainnya, atau supaya satu permukaan dapat meluncur diatas permukaan lainnya bila diantara permukaa-permukaan ini terdapat lapisan fluida, haruslah dikerjakan gaya. Baik zat cair maupun gas mempunyai viskositas hanya saja zat cair lebih kental (viskos) daripada gas (2:92). Laju aliran fluida dalam tabung yang bulat bergantung pada viskositas fluida, perbedaan tekanan dan dimensi tabung. Ilmuan Prancil J.L Poiseulle (1999-1989), yang ditarik pada fisika dari peredaran darah (dan yang namanya, Poise, dipakai), menentukan bagaimana variabel-variabel tersebut mempengaruhi laju aliran fluida yang tidak bisa ditekan yang mengalami aliran laminer pada tabung silinder. Hasilnya, yang dikenal dengan nama persamaan Poiseulle, adalah : dimana r adalah radius dalam tabung, L adalah panjangnya, P1 P2 merupakan perbedaan tekanan antara ujung-ujungnya, . adalah koefisien viskositas, dan Q adalah laju volume aliran (volume fluida yang mengalir per satuan waktu dinyatakan dalam satuan SI m3/S) (3:35). Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sistem newton dan sistem non-newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat aliran nya apakah sesuai hukum aliran dari newton atau tidak. Dalam hukum aliran dari newton, perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dr) adalah perbedaan kecepatan atau rate of shear, dv/dr. Gaya persatuan luas F 1/A diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut sharing stress (1:830). 1. Aliran Newton; makin besar viskositas suatu cairan akan makin besar pula gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of share

2. Aliran Non Newton a. Aliran Plastis. Kurva aliran plastis tidak melalui (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress (atau akan memotong, jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal sebagai harga yield.

b. Aliran Pseudoplastis. Kurva konsistensi untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik (0,0) atau paling tidak mendekati pada rate of shear rendah. Akibatnya, berlawanan dengan Bingham bodies, tidak ada yield value.

c. Aliran Dilatan. Tipe aliran ini adalah kebalikan dari pseudoplastis seringkali dikenal sebagai shear thining system, maka bahan dilatan seringkali diberi shear thichening system.

II.2 Uraian Bahan 1. Suspensi Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair (3:17).

2.Emulsi Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (3:9)3. Pasta Gigi Pasta adalah sediaan berupa massa lunak yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau parafin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol, mucilago atau sabun. Digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit (3:50).4. Lotio Lotio adalah berupa larutan, suspensi atau emulsi dimaksudkan untuk penggunaan pada kulit. Penambahan etanol 90% dalam losio akan mempercepat efek pendinginan, sedangkan penambahan gliserol akan menyebabkan kulit tetap lembab dalam waktu tertentu (2:325).Digunakan dengan cara mengoleskan pada kulit tanpa pijitan. Pembuatan losio harus dilakukan dengan tehnik aseptik, yaitu sedapat mungkin harus dihindarkan terjadinya cemaran jasad renik ke dalam losio, terutama jika losio tidak mengandung pengawet (2:325).Catatan, Pada etiket harus juga tertera Hanya untuk pemakaian luar Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kata Lotio mengalami perubahan makna. Saat ini Lotio tidak lagi didefinisikan sebagai bentuk sediaan farmasi, tetapi hanya terbatas pada bagaimana cara menggunakan sediaan tersebut.Jadi kata Lotio lebih diartikan sebagai sesuatu yang cara penggunaannya dioleskan (2:325).Berdasarkan sifat bahan aktif (calamin) yang praktis tidak larut dalam air, maka sediaan akan dibuat dalam bentuk suspensi dengan bahan tambahan yang cocok (2:325).

5. Krim Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sedangkan menurut fomularium Nasional krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (3:26)6. Semi padatMerupakan sediaan setengah padat dikerjakan untuk pemakaian tropilesed pada kulit atau selaput lendir. Bahan sebaiknya terdispersi homogen dalam dasar salep. Salep tidak boleh berbau tengik, kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras narkotik 10% (3:58).

II.3 Prosedur Kerja 1. Sebanyak 75 gram dimasukkan dalam beker, kemudian diletakkan di bawah viscometer Broon field. Dipilihspindel yang tepat disesuaikan dengan viskositas sampel.2. Spindel dipasang pada alat pemutar, kemudian viskometernya diatur kecepatannya diperhatikan garis merah pada meteran dan hentikan putarannya setelah garis merah pada alat berputar sebanyak tiga kali.2. Hasil dicatat dalam table .3. Kerapatan putaran dan besar spindle dicocokkan pada table penentuan nilai faktor konversi yang telah tersedia.4. Dihitung viskositasnya .

BAB IIIMETODE KERJA

III.1 Alat dan bahan III.1.1 Alat percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 200 ml, gelas ukur, gelas piala,lap halus, lap kasar, dan viskometer,III.1.2 Bahan percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Balsem Lang (semi padat),Kloramfenikol (suspensi), Laksadin (emulsi), Pepsodent (pasta gigi), Salonpas (krim) dan Sovel (lotio).

III.2 Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Dituang bahan ke dalam beker masing-masing 75 mg3. Diletakkan beker berisi bahan di bawah viscometer4. Diletakkan spindel kedalam beker5. Diatur pergerakan spindel dengan kecepatan 5 rpm, 10 rpm, 20 rpm, 50 rpm dan 100 rpm 6. Diamati dial reading yang terukur di viscometer7. Dicatat faktor koreksi dengan ukur sesuai spindelnya 8. Dihitung viskositasnya

BAB IVHASIL PENGAMATAN

IV.1 Tabel Data IV.1.1 Golongan Selasa SiangKelompokSampelRate of shearFKDealing Rate

Shearing StressViskositas

III

1Antis(Gel)5102050100200010009002001007810122078,751010,5237000081250100000112500215000140008.125500022502150

2Na CMC(Suspensi)51020501004002001004020001,53,57001,55700300075001400000150150400

3Mylanta(Suspensi)51020501002001005020101,5228,56,51,51,5286,5150027504008250650030027510016565

4Pepsodent(Pasta Gigi)510205010080004000200080040027,53,436,545,55215232941528500001140000131000017300002080000170000114000695003460020800

5Ichtiol(Salep)510205010080004