perkembangan pasar modal syariah di indonesia

Download Perkembangan Pasar Modal Syariah Di Indonesia

Post on 05-Oct-2015

13 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Lembaga Keuangan Syariah

TRANSCRIPT

PERKEMBANGAN PASAR MODAL SYARIAH DI INDONESIAPerkembangan pasar modal syariah di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan, hal ini tercermin dari keluarnya beberapa Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI yang berkaitan dengan pasar modal syariah. Ada 6 Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal. Adapun ke enam fatwa dimaksud adalah:1. No.05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham2. No.20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah 3. No.32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah;4. No.33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah;No.40/DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip syariah di Bidang Pasar Modal;5. No.41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah. Untuk mengembangkan pasar modal syariah Bapepam-LK memberikan perhatian besar dengan adanya master plan 5 tahun ke depan. Rencana tersebut dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia 2005-2009. Berkembangnya produk pasar modal berbasis syariah juga merupakan potensi dan sekaligus tantangan pengembangan pasar modal di Indonesia. Ada dua strategi utama yang dicanangkan Bapepam-LK untuk pengembangan pasar modal syariah dan produk pasar modal syariah. 1. Mengembangkan kerangka hukum untuk memfasilitasi pengembangan pasar modal berbasis syariah. 2. Mendorong pengembangan produk pasar modal berbasis syariah. Selanjutnya, dua strategi utama tersebut dijabarkan Bapepam-LK menjadi tujuh implementasi strategi , yakni:1) mengatur penerapan prinsip syariah;2) menyusun standar akuntansi;3) mengembangkan profesi pelaku pasar;4) sosialisasi prinsip syariah;5) mengembangkan produk;6) menciptakan produk baru;7) meningkatkan kerja sama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.Untuk mendukung pasar modal syariah dibentuklah Jakarta Islamic Index (JII) yang merupakan hasil kerja sama antara Pasar Modal Indonesia (dalam hal ini PT Bursa Efek Jakarta) dengan PT Danareksa Invesment Management (PT DIM). JII telah dikembangkan sejak tanggal 3 Juli 2000.Tujuan Pembentukan Jakarta Islamic Index1. Meningkatkan kepercayaan investor melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di bursa efek;1. Mendukung proses transparansi dan akuntabilitas saham berbasis syariah di Indonesia; 2. Menjadi tolak ukur kinerja (benchmark) dalam memilih portofolio saham yang halal.Penerapan prinsip syariah pada pasar modal ditujukan pada penilaian instrumen pasar modal, seperti saham, obligasi, dan reksa dana yang diterbitkan oleh masing-masing perusahaan. Menurut Dewan Pengawas Syariah, ada 4 syarat yang harus dipenuhi agar saham-saham tersebut dapat masuk ke JII:1. Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.2. Bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional.3. Usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan/minuman yang haram.4. Tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan, dan menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat. Perkembangan instrumen pasar modal syariah di Indonesia cukup baik, menurut data BEI sampai dengan Juni 2010 terdapat 401 saham yang tercatat di BEI diantaranya 194 saham (48%) merupakan saham syariah. Dengan kapitalisasi mencapai Rp 1.105 triliun (48%) dari total kapitalisasi bursa yang sebesar Rp 2.309 triliun.

Reksa Dana Saham : Trillion Club VS Billion Club

Pada artikel 3 tahun sebelumnya saya pernah membahas tentang reksa dana Trillion Club atau T-Club. T-Club adalah kategori untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya telah menembus angka Rp 1 Triliun. Di kalangan investor, reksa dana T-Club ini menjadi perdebatan. Sebab ada semacam mitos, bahwa reksa dana saham yang dana kelolaannya sudah tinggi atau masuk dalam kategori T-Club, dianggap sudah terlalu gemuk sehingga kinerjanya melambat dan kalah gesit dibandingkan reksa dana saham yang dana kelolaannya lebih kecil.Di satu sisi, mitos tersebut juga saya pertanyakan. Sebab jika faktor kinerja merupakan salah satu pertimbangan utama dalam berinvestasi di reksa dana, maka otomatis reksa dana yang gemuk akan ditinggalkan dan semua investor akan beralih ke reksa dana yang lebih gesit. Nantinya reksa dana yang gesit tersebut akan menjadi gemuk dan akhirnya ditinggalkan. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Kebanyakan reksa dana yang besar tetap besar, dan yang menjadi besar umumnya bisa bertahan. Sementara reksa dana yang kecil, meskipun kinerjanya bagus terkadang juga tidak mendapat perhatian dari investor sehingga tetap kecil.Untuk itu, saya percaya bahwa faktor kinerja bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keputusan investasi dari para investor. Meski demikian, saya tetap penasaran. Apakah mitos bahwa reksa dana saham yang dana kelolaannya sudah besar itu pasti akan kalah dengan yang kecil itu memang benar? Hal inilah akan saya bahas secara tuntas dalam artikel ini. Untuk memudahkan pembahasan, reksa dana saham dengan dana kelolaan di bawah 1 triliun saya sebut dengan Billion Club atau B-Club. Artikel ini akan berfokus pada pembahasan kinerja reksa dana saham T-Club Vs B-Club.Industri Reksa Dana Berkembang3 tahun sudah berlalu, industri reksa dana saham juga sudah jauh berkembang. Jika pada tahun 2011 yang lalu, hanya terdapat sekitar 13 reksa dana dengan dana kelolaan di atas Rp 1 Triliun, maka pada bulan Desember tahun 2013, sudah ada sekitar 23 reksa dana saham. Perkembangan terakhirnya adalah sebagai berikutJumlah Reksa Dana Saham B-Club dan T-Club Periode 2004 2013Dengan logika dana kelolaan baru bisa besar jika kinerjanya bagus tentu anggapan bahwa reksa dana gendut kinerjanya kurang maksimal kurang tepat. Sebab bagaimana mungkin para investor mau mempercayakan dananya jika sejak awal sudah memiliki anggapan bahwa kinerja reksa dana akan kurang bagus karena terlalu gendut ?Apakah pada kenyataannya justru reksa dana saham yang gendut tersebut malahan yang kinerjanya bagus? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut saya melakukan riset terhadap kinerja dan dana kelolaan reksa dana saham. Riset yang saya lakukan, langkahnya adalah sebagai berikut:1. Mencari dana kelolaan reksa dana saham setiap akhir tahun dari 2004 2013 dan membagi sampel reksa dana saham menjadi B-Club dan T-Club2. Menghitung Return Tahunan dari IHSG dan rata-rata reksa dana saham secara keseluruhan yang diwakili oleh Infovesta Equity Fund Index3. Merata-ratakan Return dari Reksa Dana yang masuk kategori B-Club dan T-Club4. Membandingkan hasil return untuk point 2 dan 3.Hasil dari perbandingannya adalah sebagai berikut:

Perbandingan secara spesifik antara rata-rata return reksa dana T-Club dengan B-Club adalah sebagai berikut:

Dari kedua tabel di atas, saya mendapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata reksa dana saham T-Club menang 8 kali dibandingkan IHSG. Sementara rata-rata reksa dana saham hanya 3 kali dan reksa dana B-Club hanya 2 kali saja. Artinya anggapan bahwa dana kelolaan besar akan kalah dengan dana kelolaan kecil itu tidak terbukti. Jika membandingkan antara reksa dana saham T-Club dan B-Club saja, reksa dana T-Club mengalahkan B-Club 9 kali dalam 10 tahun terakhir. Satu-satunya tahun dimana B-Club mengalahkan T-Club adalah pada tahun 2005 dengan selisih kurang dari 1%. Artinya secara rata-rata kinerja reksa dana saham yang dana kelolaannya besar justru lebih baik 4 tahun terakhir (2010 2013) merupakan masa yang sulit karena hampir semua reksa dana saham kalah dibandingkan IHSG. Secara rata-rata kinerja reksa dana T-Club yang lebih baik. Jika dilihat selisih persentase antara rata-rata Return T-Club dan B-Club dengan IHSG, ketika T-Club kalah, selisihnya masih kurang dari 3%. Sementara untuk reksa dana B-Club, ketika kalah bisa selisih sampai 12% seperti pada tahun 2010.Dengan melihat analisa di atas, mitos reksa dana yang T-Club akan kalah dengan B-Club DIPATAHKAN. Jika hanya melihat satu atau dua reksa dana secara individu, memang terkadang reksa dana yang returnnya tinggi adalah reksa dana yang dana kelolannya masuk dalam kategori B-Club. Namun investor lupa, reksa dana yang returnnya paling rendah biasanya juga reksa dana yang masuk dalam kategori B-Club. Sehingga kalau dirata-ratakan, bahkan lebih rendah daripada rata-rata reksa dana T-Club.Dengan demikian, baik reksa dana saham yang dana kelolaan besar dan dana kelolaan kecil memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya besar, keunggulannya adalah lebih stabil. Dengan berinvestasi pada reksa dana tersebut, investor diperkirakan akan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada IHSG meski selisihnya tidak terlalu besar. Kelemahannya adalah jika investor mengharapkan bahwa reksa dana tersebut memberikan return yang paling tinggi, mungkin sulit.Sebaliknya untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya kecil, keunggulannya adalah dengan berinvestasi pada reksa dana tersebut, investor berpotensi mendapatkan reksa dana saham dengan tingkat return paling tinggi. Kelemahannya, jika pilihan reksa dana sahamnya salah atau strategi yang dijalankan reksa dana saham kurang berhasil, bisa jadi pilihannya menjadi reksa dana saham dengan return paling rendah.Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.Penyebutan produk investasi (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

BPJS dan Jaminan Sosial SyariahJaminan social (at-takaful al-ijtimaiy) adalah salah satu rukun ekonomi Islam yang paling