Proposal Tentang Tradisi BAB 1, 2, 3

Download Proposal Tentang Tradisi BAB 1, 2, 3

Post on 10-Oct-2015

74 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pada bab 1 mengenai latar belakang tentang tradisi kaboro co'i, dan pada bab 2 akan membahan tnentang tinjauan teori dan bab 3 akan membahas metodologi peneltiansehingga siapa yang mendownload file ini, akan menambah wawasan tentang tradisi yang terdapat di daerah bima sumbawa NTB

TRANSCRIPT

<p>BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahNilai-nilai sosial di Indonesia sangat beragam. Hal ini sebagai dampak dari keanekaragaman budaya di negara ini. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Nilai sangat dipengaruhi oleh kebudayaan suatu masyarakat. Setiap daerah atau suku di Indonesia biasanya memiliki kebudayaan yang berbeda, begitu pula dengan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Keberagaman budaya yang ada di Indonesia dilandasi oleh toleransi hidup yang tinggi. Hal ini sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda namun tetap satu jua. Kebudayaan dapat dipandang sebagai suatu kumpulan pola-pola tingkah laku manusia yang bersandar pada daya cipta dan keyakinan untuk keperluan hidup dalam masyarakat (Abdulsyani, 2002: 48) Salah satu kemajemukan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu sistem perkawinan. Menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Lebih lanjut menurut Kompilasi HHHhhhhHJJukum Islam Pasal 2 disebutkan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah akad yang sangat kuat untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah (Nuruddin, 2004:42)Berbagai macam tata upacara perkawinan yang berlaku diberbagai daerah adalah tatanan nilai-nilai luhur yang telah dibentuk oleh para tetua yang diturunkankan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, upacara adat perkawinan merupakan serangkaian kegiatan yang maksud dan tujuan agar perkawinan akan selamat sejahtera serta mendatangkan kebahagiaan di hari kemudian. Semua kegiatan, termasuk segala perlengkapan upacara adat merupakan lambang yang mempunyai makna dan pengharapan tertentu (Wiyasa, 2002: 9).Dalam pelaksanaannya upacara perkawinan biasanya akan melalui beberapa tahapan. Misalnya terdapat dalam adat perkawinan masyarakat Sasak Getap di Kelurahan Cakra Selatan Baru terdapat tahapan Bejango dimana diartikan sebagai kunjungan warga masyarakat sekitar tempat tinggal calon pengantin pria untuk melihat atau mengenal lebih jauh calon pengantin perempuan. Tradisi Bejango biasanya mulai dilaksanakan sejak calon pengantin perempuan dibawa kerumah orang tua calon pengantin pria dan berakhir hingga akad nikah dilangsungkan (Tasnia, 2008:33). Pada saat Bejango, calon pengantin wanita menjadi pusat perhatian masyarakat setempat, oleh karena itu sikap serta penampilan calon pengantin harus dijaga. Sementara itu masyarakat yang melakukan Bejango pada umumnya membawa beras dan gula, tetapi ada juga yang membawa pakaian atau perlengkapan pribadi untuk calon pengantin. Sementara itu dari pihak tuan rumah harus menyiapkan sajian berupa dulang sanganan (jajan). Tradisi Bejango mengandung banyak makna bagi masyarakat Getap, selain sebagai wadah silaturahim, serta diharapkan dapat membantu keluarga pengantin pria dalam melakukan begawe (syukuran). Sementara itu dalam perkawinan suku Bima terdapat tradisi kaboro coi (mengumpulkan mahar) tradisi kaboro coi merupakan salah satu dari beberapa tahap yang harus dilewati dalam perkawinan yang ada di Kabupaten Bima, khususnya di Desa Tangga Kecamatan Monta. Kaboro coi merupakan tardisi mengumpulkan mahar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar guna membantu pihak calon pengantin laki-laki dalam memenuhi nilai mahar yang telah disepakati oleh kedua keluarga yang berhajat dan untuk menambah biaya yang diperlukan pada saat acara perkawinan. Dalam pelaksanaan perkawinan itu sendiri mahar merupakan syarat yang menentukan sah atau tidaknya suatu perkawinan, mahar atau dalam bahasa Bima-nya biasa disebut dengan coi merupakan pemberian wajib calon suami kepada calon istri, baik itu berupa uang maupun berupa barang. Seperti halnya di daerah lain, dalam pelaksanaan perkawinan suku Bima besarnya coi tergantung dari hasil keputusan musyawarah dan mufakat dari kedua belah pihak keluarga yang berhajat, mengenai sedikit banyaknya (kadar) mahar yang harus dipenuhi oleh calon suami kepada calon istri itu tidak dibatasi jumlahnya oleh syariat Islam, melainkan atas kesanggupan calon suami dan keridhoan calon istri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Wahab (2007), bahwa tidak ada ketentuan dalam agama yang menunjukan batas maksimal kadar mahar yang harus ditunaikan oleh calon suami kepada calon istri.Tradisi kaboro coi mangandung banyak makna dan nilai-nilai bagi masyarakat Monta. Selain sebagai wadah silaturahim, tradisi ini juga diharapkan dapat membantu keluarga pengantin pria untuk memenuhi penunaian mahar dan juga sebagai biaya tambahan dalam pelaksanaan perkawinan tersebut. Melihat pentingnya penunaian coi dalam menentukan batal atau tidaknya perkawinan dan juga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kaboro coi pada masyarakat suku Bima ini mendorong penulis untuk mengangkat judul: NIlai-Nilai Sosial Yang Terkandung Dalam Tradisi Kaboro coi Pada Perkawinan Suku Bima Di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.</p> <p>B. Rumusan MasalahDari uraian latar belakang di atas maka penulis merumuskan beberapa permasalahan yang menjadi inti pembahasan yaitu sebagai berikut:1. Bagaimanaka nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi kaboro coi dalam perkawinan suku Bima Di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat?2. Bagaiamana prosedur pelaksanaan kaboro coi dalam perkawinan suku Bima Di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat?3. Bagaimana fungsi kaboro coi dalam perkawinan suku Bima Di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat?</p> <p>C. Tujuan PenelitianDari rumusan masalah di atas maka dapat diketahui bahwa tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Untuk mengetahui nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi kaboro coi pada perkawinan suku Bima di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.2. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan kaboro coi dalam perkawinan suku Bima di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.3. Untuk mengetahui fungsi kaboro coi dalam perkawinan suku Bima di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.</p> <p>D. Manfaat Penelitian1. Manfaat TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan pengembangan ilmu sosial budaya dan ilmu lainnya, serta memperoleh pengetahuan terkait dengan tradisi kaboro coi dalam perkawinan suku Bima di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat, baik itu mengenai prosedur pelaksanaan kaboro coi, fungsi kaboro coi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kaboro coi 2. Manfaat PraktisSecara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dan pedoman bagi masyarakat yang akan melaksanakan kaboro coi serta dapat memberikan berbagai informasi serta pengetahuan baru tentang adat perkawinan yang ada di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.. Penulis juga berharap bahwa hasil penelitian ini dapat menjadi acuan atau bahan penelitian lanjutan bagi kalangan akademik pada masa yang akan datang.</p> <p>BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Tinjauan Tentang Penelitian TerdahuluPenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Radman (2013) yang berjudul Proses Pelaksanaan Tradisi Kaboro coi Dalam Perkawinan Masyarakat Bima Di Desa Bala Kecamatan Wera Kabupaten Bima Ditinjau Dari UU No. 1 Tahun 1974, bahwa pelaksanaan tradisi kaboro coi pada masyarakat Bima merupakan implementasi dari nilai kepercayaan atau kebiasaan dari suatu generasi ke generasi yang juga merupakan bagian dari rukun dan syarat perkawinan.Penelitian lain yang juga relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Umrah tahun (2007) yang berjudul Peranan Coi Dalam Perkawinan Suku Bima Di Desa Donggobolo Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peranan coi adalah menjadi penentu dapat tidaknya suatu perkawinan dilangsukan, jika dalam musyawarah mengenai coi tidak ada kesepakatan maka perkawinan tersebut batal. Fungsi coi dalam perkawinan suku Bima yaitu untuk membiayai segala kebutuhan pada saat penyelenggara perkawinan serta menjadi modal awal dalam memasuki masa mula dalam kehidupan berumah tangga.Penelitian mengenai tradisi kaboro coi ini memiliki kesamaan dengan tradisi bejango[footnoteRef:2] yang ada pada masyarakat suku sasak. Seperti pada penelitian Tasnia tahun 2008 yang berjudul Nilai-Nilai Moral Pada Tradisi Bejango Dalam Sistem Perkawinan Masyarakat Sasak, mengatakan bahwa masyarakat yang datang bejango dengan membawa beras dan gula (kebutuhan begawe) bertujuan untuk membantu mengurangi biaya/beban begawe[footnoteRef:3] (syukuran), selain itu maksud dari masyarakat yang datang bejango ini juga sebagai bentuk partisipasi para pejango terhadap epen gawe[footnoteRef:4]. Sehingga didalam tradisi bejango ini terkandung nilai sosial seperti : (a) tolong menolong, (b) kepedulian, (c) saling membantu. [2: Bejango dimana diartikan sebagai kunjungan warga masyarakat sekitar tempat tinggal calon pengantin pria untuk melihat atau menganal lebih jauh calon pengantin perempuan.] [3: Begawe adalah kegiatan syukuran yang dilakukan oleh masyarakat.] [4: Epen Gawe adalah tuan rumah atau orang yang memiliki hajatan atau syukuran.] </p> <p>Berdasarkan tiga penelitian terdahulu yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa para peneliti hanya meneliti tentang proses pelaksanaan kaboro coi dan peran coi dalam pelaksanaan perkawinan suku Bima, sedangkan mengenai nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi kaboro coi itu sendiri belum diteliti. Hal itulah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai tradisi kaboro coi dengan fokus kajian pada nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi kaboro coi pada perkawinan suku Bima. </p> <p>B. Tinjauan Tentang Kebudayaan1. Pengertian KebudayaanSecara umum, kebudayaan adalah istilah yang menunjukan segala hasil karya manusia yang berkaitan dengan pengungkapan bentuk. Kebudayaan merupakan wadah, tempat, dimana hakikat manusia mengembangkan diri. Antara hakikat manusia dengan pengembangan diri (kebudayaan) tersebut terjalin hunbungan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam perkembangannya kebudayaan sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tempat, waktu, dan kondisi masyarakat ( Ensiklopedi Indonesia dalam Malik, 2009: 185).Lebih lanjut seperti yang dikatakan Koentjaraningrat dalam Soelaeman (2007: 21), kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sedangkan kata budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan kebudayaan yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa.Lebih lanjut seperti yang diungkapkan Taylor dalam Abdulsyani (2002: 48) melihat kebudayaan sebagai kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai warga masyarakat. Hal serupa juga diutarakan oleh Selo Soemarjan dan Soelaiman Soemardi dalam Abdulsyani (2002: 49) mengemukakan bahwa kebudayaan itu adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Dari beberapa pengertian kebudayaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakan dan diturunkan melalui proses belajar tiap individu dalam kehidupan bermasyarakat.2. Unsur-unsur KebudayaanUnsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan di dunia, baik yang kecil, sampai dengan hubungan yang luas. Menurut pendapat B. Malinowski dalam Soelaeman (2007: 23), kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsur universal, yaitu:a. Bahasab. Sistem teknologic. Sistem mata pencahariand. Organisasi sosiale. Sistem pengetahuanf. Religig. Kesenian Lebih lanjut menurut C. Kluckhohn dalam Abdulsyani (2002:46), terdapat tujuh unsur kebudayaan yang dapat dianggap sebagai kultural universal yaitu: a. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transport, dan sebagainya).b. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya).c. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan). d. Bahasa (lisan maupun tertulis).e. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).f. Sistem pengetahuan.g. Religi (sistem kepercayaan).3. Sistem kebudayaanSistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya atau cultural system merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan lepas satu dari yang lainnya, tetapi selalu berkaitan dan menjadi suatu sistem. Dengan demikian sistem budaya merupakan bagian dari kebudayaan, yang diartikan pula dengan adat istiadat. Adat istiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, norma-norma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan termasuk norma agama (Soelaeman, 2007: 25). </p> <p>C. Tinjauan Tentang TradisiTradisi adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib (Esten, 1999: 21). Di dalam tradisi diatur bagaimana manusia berhubungan dengan manusia yang lain atau satu kelompok manusia dengan kelompok manusia yang lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya dan bagaiamana perilaku manusia terhadap alam yang lain. Dalam tradisi itu sendiri terdapat sejumlah konvensi[footnoteRef:5]. Konvensi inilah yang menjadi pedoman ataupun anutan dari kelompok masyarakat (tradisional) yang bersangkutan. Pelanggaran terhadap konvensi berarti pelanggaran terhadap tradisi. [5: Konvensi: aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun sifatnya tidak tertulis. ] </p> <p>Sebagai sistem budaya, tradisi akan menyediakan seperangkat model untuk bertingkah laku yang bersumber dari sistem nilai dengan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan utama ini akan terwujud dalam sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem teknologi (Soebadio dalam Esten 1999:22). Sistem ideologi meliputi etika, norma, dan adat istiadat. Pada hakikatnya kebudayaan merupakan reaksi umum terhadap perubahan kondisi kehidupan manusia tempat suatu proses pembaharuan terus-menerus terhadap tradisi yang memungkinkan kondisi kehidupan manusia menjadi lebih baik. Masyarakat tradisional hanya bisa bertahan bilamana tersedia suatu m...</p>