revisi bab ii

Download Revisi BAB II

Post on 09-Oct-2015

34 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tugas tata tulis laporan

TRANSCRIPT

54

BAB IIKAJIAN TEORITIS

2.1. Sifat Fisik MaterialBeberapa sifat fisik material yang penting untuk diperhatikan dalam pekerjaan pemindahaan tanah adalah sebagai berikut:Penomoran bab dan subbab dalam karangan ilmiah yang berupa penomoran dengan sistem angka adalah sebagai berikut:BAB II ...2.1. ...2.1.1. ...2.1.2. ...2.1.2.1. ..2.2. ... 1. Pengembangan material 2.1.1. Pengembangan MaterialPengetikan alenia baru dimulai pada ketukan keenam dari tepi kiri. Huruf awal setiap kata pada anak subbab ditulis dengan huruf kapital.Pengembangan material adalah perubahan berupa penambahan atau pengurangan volume material (tanah) yang berubah dari bentuk aslinya. Dari faktor tersebut bentuk material dibagi dalam 3 keadaan yaitu:a) Keadaan asli (Bank Condition) 2.1.1.1. Keadaan Asli (Bank Condition)Keadaan material yang masih alami dan belum mengalami gangguan teknologi disebut keadaan asli (bank). Dalam keadaan seperti ini butiran-butiran yang dikandungnya masih terkonsolidasi dengan baik. Ukuran tanah demikian biasanya dinyatakan dalam ukuran bank measure atau Bank Cubic Meter (BCM) yang digunakan sebagai dasar perhitungan jumlah pemindahan tanah.b) Keadaan Gembur (Loose Condition)Yaitu keadaan tanah setelah diadakan pengerjaan. Material yang tergali dari tempat asalnya akan mengalami perubahan volume (mengembang). Hal ini disebabkan adanya penambahan rongga udara diantara butiran-butiran tanah. Dengan demikian volumenya menjadi lebih besar. Ukuran volume tanah dalam keadaan lepas biasanya dinyatakan dalam loose measure atau Loose Cubic Meter (LCM). Dengan demikian dapat dimengerti bahwa LCM mempunyai nilai yang lebih besar dari BCM. Penggunaan kata Dengan demikian pada kalimat terakhir sebaiknya diganti dengan kata Maka karena pada awal kalimat sebelumnya sudah terdapat kata yang sama.

c) Keadaan Padat (Compact) Keadaan padat adalah keadaan tanah setelah ditimbun kembali dengan disertai usaha pemadatan. Perubahan volume terjadi karena adanya penyusutan rongga udara diantara partikel-partikel tanah tersebut. Dengan demikian volumenya berkurang, sedangkan beratnya tetap. Ukuran volume tanah dalam keadaan padat biasanya dinyatakan dalam compact measure atau Compact Cubic Meter (CCM).2. Berat Material 2.1.2. Berat MaterialBerat adalah sifat yang dimiliki oleh setiap material. Kemampuan suatu alat berat untuk melakukan pekerjaan seperti mendorong, mengangkut, dan lain-lain, akan dipengaruhi oleh berat material tersebut. Berat material ini akan berpengaruh terhadap volume yang diangkut atau didorong oleh alat berat. Pada saat sebuah dump truck mengangkut tanah dengan berat 1,5 ton/m3, alat dapat bekerja dengan baik. Tetapi pada saat mengangkut tanah seberat 1,8 ton/m3, ternyata alat berat mengalami beban berat sehingga alat berat terlihat berat mengelindingkan rodanya. 3. Bentuk Material 2.1.3. Bentuk MaterialFaktor ini berpengaruh terhadap banyak sedikitnya material tersebut dapat menempati suatu ruangan tertentu. Apabila material dengan kondisi butiran beragam, kemungkinan besar isinya dapat sama (senilai) dengan volume ruangan yang ditempatinya. Sedangkan material yang berbongkah-bongkah akan lebih kecil dari nilai volume ruangan yang ditempati. Oleh karena itu, pada material jenis ini akan berbentuk rongga-rongga udara yang memakan sebagian besar isi ruangan.4. Kohesivitas (Daya Ikat) Material 2.1.4. Kohesivitas (Daya Ikat) Material Kohesivitas material adalah daya lekat atau kemampuan saling mengikat diantara butir-butir material itu sendiri. Sifat ini jelas berpengaruh terhadap alat, misalnya pengaruhnya terhadap spillage factor (faktor pengisian). Material dengan kohesivitas tinggi akan mudah menggunung, dengan demikian apabila material itu berada pada suatu tempat, akan munjung. Volume material yang menempati ini ada kemungkinan bisa melebihi volume ruangan, misalnya tanah liat. Sedangkan material dengan kohesivitas rendah, misalnya pasir, apabila menempati suatu ruangan akan sukar menggunung, melainkan permukaannya cenderung rata.5. Kekerasan MaterialMaterial keras akan lebih sukar dipecahkan, digali atau dikupas oleh alat berat. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat. Batuan dalam pengertian earth moving terbagi dalam 3 batuan dasar, yaitu:a. Batuan beku 2.1.5.1. Batuan Beku : sifat keras, padat, pejal dan kokoh.b. Batuan sedimen 2.1.5.2. Batuan Sedimen : merupakan perlapisan dari yang lunak hingga keras.c. Batuan metamorf 2.1.5.3. Batuan Metamorf : umumnya perlapisan dari yang keras, padat dan tidak teratur.Pengukuran kekerasan tanah dapat dilakukan dengan cara ripper, seismic (suara atau getaran), dan soil investigation drill (pengeboran).6. Daya Dukung Tanah 2.1.6. Daya Dukung TanahDaya dukung tanah didefenisikan sebagai kemampuan tanah untuk mendukung alat yang ada di atasnya. Jika suatu alat berada di atas tanah, maka alat tersebut akan memberikan ground pressure, sedangkan perlawanan yang diberikan oleh tanah adalah daya dukung. Jika pressure alat lebih besar dari daya dukung tanah, maka alat tersebut akan terbenam. Demikian pula sebaliknya, alat akan berada dalam keadaan aman untuk dioperasikan apabila pressure alat lebih kecil dari daya dukung tanah dimana alat tersebut berada. Hal ini perlu dicermati oleh setiap pelaksanaan di lapangan untuk menghindari kerugian yang akan diderita oleh perusahaan.2.2. Proses Land Clearing, Pengupasan Topsoil serta Pengupasan Overburden1. Pembersihan Lahan (Land Clearing) 2.2.1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)Land Clearing adalah pembersihan lahan area penambangan dari pepohonan ataupun semak belukar yang dapat mengganggu aktivitas penambangan. Pepohonan (tidak berbatang kayu keras) yang dipisahkan ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai humus pada saat pelaksanaan reklamasi. Gambar proses Land Clearing dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Land Clearing

2. Pengupasan Tanah Pucuk (Topsoil) 2.2.2. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil) Kata Topsoil harusnya dipisah Top Soil Pengupasan topsoil top soil adalah pengupasan tanah pucuk yang bersifat humus. Biasanya top soil top soil berada 0-0,5 m dari permukaan tanah. Tanah humus ini dilestarikan agar tidak hilang unsur haranya, gunanya untuk kegiatan reklamasi pada akhir kegiatan penambangan. Pengupasan Top Soil top soil ini dilakukan sampai batas lapisan subsoil, yaitu pada kedalaman dimana telah sampai di lapisan batuan penutup (tidak mengandung unsur hara). Tanah pucuk yang telah terkupas selanjutnya ditimbun dan dikumpulkan pada lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah Top Soil Bank (TSB). Untuk selanjutnya tanah pucuk yang terkumpul di Top Soil Bank pada saatnya nanti, akan dipergunakan sebagai lapisan teratas pada lahan disposal yang telah berakhir dan memasuki tahapan program reklamasi. Sehingga daerah bekas lahan tambang dapat dipergunakan seperti sebelum kegiatan penambangan berlangsung seperti untuk kegiatan perkebunan, lapangan olahraga, hutan lindung, dan lain-lain. Gambar pengupasan top soil dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Pengupasan Top Soil

3. Pengertian Kegiatan Pengupasan Lapisan Penutup Pengupasan Overburden adalah pengupasan tanah penutup yang bersifat tidak humus yang menutupi perlapisan batubara. Overburden adalah tanah penutup awal sebelum ditemukannya seam seam batubara awal. Interburden adalah tanah penutup diantara dua buah seam. Gambar kegiatan pengupasn lapisan tanah penutup (overburden) dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Pengupasan OverburdenPengertian kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yaitu pemindahan suatu lapisan tanah atau batuan yang berada di atas cadangan bahan galian, agar bahan galian tersebut menjadi tersingkap. Untuk mewujudkan kondisi kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yang baik diperlukan alat yang mendukung dan sitematika pengupasan yang baik. Dalam pengupasan overburden di PT. Cipta Kridatama menggunakan metoda konvensional. Yaitu menggunakan kombinasi alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali, alat muat, alat angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer, Wheel Loader, dan Dump Truck. Bila material tanah penutup lunak bisa langsung menggunakan alat gali muat, sedangkan apabila materialnya keras mungkin digemburkan terlebih dahulu menggunakan Ripper, baru kemudian dimuat dengan alat muat ke alat angkut, dan selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan atau disposal area menggunakan alat angkut. Lokasi salah satu disposal area PT. Cipta Kridatama dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Disposal Area

2.3. Klasifikasi Sumberdaya dan CadanganKriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Social Council (1997) tidak ada nomor halaman kutipan. Adapun pembagian sumberdaya (resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :a). Sumberdaya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource) 2.3.1.1 Sumberdaya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau.b). Sumberdaya Tereka (Inferred Coal Resource)Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi.c). Sumberdaya Tertunjuk (Indicated Coal Resource)Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.d). Sumberdaya Terukur (Measured Coal Resource)Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.e). Sumberdaya Terkira (Probable Coal Resource)Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur