presus neurodermatitis aditya novita

Upload: aditya-novita

Post on 11-Feb-2018

269 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    1/26

    PRESENTASI KASUS

    (NEURODERMATITIS)

    LIKEN SMPLEKS KRONIKUS

    Disusun Oleh :

    Aditya Novita G1A212065

    Pembimbing :

    dr. Ismiralda Oke, Sp.KK

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

    SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

    RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

    PURWOKERTO

    2013

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    2/26

    2

    HALAMAN PENGESAHAN

    (NEURODERMATITIS) LIKEN SIMPLEKS KRONIKUS

    Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas Mengikuti

    Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin

    RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

    Disusun oleh :

    Aditya Novita G1A212065

    Telah dipresentasikan

    Pada Tanggal : April 2013

    Menyetujui

    dr. Ismiralda Oke, Sp.KK

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    3/26

    3

    I. PENDAHULUANI. IDENTITAS PASIEN

    Nama : Tn. A R

    Jenis Kelamin : Laki-laki

    Usia : 43 tahun

    Pekerjaan : Karyawan Puskesmas

    Pendidikan Terakhir : D3

    Status Pernikahan : Sudah Menikah

    Alamat : Kebokoran RT 03/04

    Agama : Islam

    No. CM : 50-46-44

    II. ANAMNESISDiambil dari autoanamnesis pada tanggal 23 Maret 2013, pukul 10.00

    WIB

    Keluhan Utama : Gatal di daerah sekitar mata kaki kiri.

    Keluhan Tambahan : Kulit menjadi kasar dan tebal karena sering

    digaruk, tetapi tidak panas dan nyeri.

    Riwayat Penyakit Sekarang:

    Pasien merasakan Gatal di daerah sekitar mata kaki kiri sejak satu

    tahun yang lalu. Gatal dirasakan semakin bertambah setiap harinya

    sehingga pasien tidak tahan dan menggaruk-garuk daerah yang gatal.

    Keluhan dirasakan kumat-kumatan dan bertambah berat terutama

    saat pasien sedang memiliki masalah yang menjadi beban pikiran seperti

    pekerjaan yang menumpuk, gatal tidak diperberat dengan berkeringat

    ataupun pasien menggunakan detergen untuk mencuci. Gatal dirasakan

    saat istirahat dan hilang saat beraktivitas. Karena gatalnya tidak dapat

    ditahan, pasien secara spontan langsung menggaruk-garuk daerah yang

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    4/26

    4

    gatal hingga kemerahan bahkan sampai berdarah setelah itu rasa gatal

    hilang dan terasa enak. Menurut pasien daerah yang digaruk menjadi

    merah, lama kelamaan tebal dan bersisik di bagian tengah serta berwarna

    kehitaman di tepinya. Padahal sebelumnya hanya berupa benjolan kecil

    tidak terasa panas dan nyeri, tetapi setelah digaruk semakin meluas dan

    melebar.

    Sebelum datang ke Poli Penyakit Kulit dan Kelamin RS Margono

    Soekardjo, pasien pernah berobat ke puskesmas dan mendapat obat berupa

    salep yang dioleskan sebanyak tiga kali dalam sehari. Keluhan gatal

    kemudian dirasakan membaik, namun setelah obat habis dapat kembali

    timbul. Tetapi bekas garukan di daerah gatalnya menetap tidak pernah

    hilang.

    Riwayat Penyakit Dahulu :

    Tidak ada.Riwayat Alergi

    Tidak ada Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus, Hipertensi

    Tidak ada Riwayat Penyakit Asma

    Riwayat Penyakit Keluarga :

    Tidak ada yang menderita penyakit dengan keluhan yang sama dengan

    pasien.

    Tidak ada yang menderita Alergi

    Tidak ada yang menderita Penyakit Asma pada keluarga pasien

    Tidak ada yang menderita Penyakit Diabetes Mellitus, Hipertensi

    III. STATUS GENERALISKeadaaan umum : Baik

    Kesadaran : Compos mentis

    Keadaan gizi : Baik, BB: 68 kg, TB: 168 cm

    Vital Sign : Tekanan Darah : 120/70 mmHg

    Nadi : 88 x/menit

    Pernafasan : 18 x/menit

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    5/26

    5

    Suhu : afebris

    Kepala : Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata

    Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

    Hidung : Simetris, deviasi septum (-), sekret (-)

    Telinga : Bentuk daun telinga normal, sekret (-)

    Mulut : Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-)

    Tenggorokan : T1T1 tenang , tidak hiperemis

    Thorax : Simetris, retraksi (-)

    Jantung : BJ III reguler, murmur (-), Gallop (-)

    Paru : SD vesikuler , ronki (-/-) , wheezing (-)

    Abdomen : Supel, datar, BU (+) normal

    Kelenjar Getah Bening: tidak teraba pembesaran.

    Ekstremitas : Akral hangat, edema ( ), sianosis ( )

    IV. STATUS DERMATOLOGIKUSLokasi : Ekstremitas Inferior

    Effloresensi : Tampak makula eritematosa, hiperpigmentasi, berbatas

    tegas, likenifikasi dengan skuama halus pada bagian tepi,

    ukuran plakat, bentuk lingkaran tidak beraturan, lokalisasi

    soliter.

    V. PEMERIKSAAN PENUNJANGTidak dilakukan pemeriksaan penunjang

    VI.

    RESUMEPasien Tn. A R, Laki-laki, usia 43 tahun datang dengan keluhan

    Gatal di daerah sekitar mata kaki kiri sejak satu tahun yang lalu. Gatal

    dirasakan semakin bertambah setiap harinya sehingga pasien tidak tahan

    dan menggaruk-garuk daerah yang gatal. Keluhan dirasakan kumat-

    kumatan dan bertambah berat terutama saat pasien sedang memiliki

    masalah yang menjadi beban pikiran seperti pekerjaan yang menumpuk.

    Gatal dirasakan saat istirahat dan hilang saat beraktivitas. Menurut pasien

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    6/26

    6

    daerah yang digaruk menjadi merah, lama kelamaan tebal dan bersisik di

    bagian tengah serta berwarna kehitaman di tepinya. Padahal sebelumnya

    hanya berupa benjolan kecil tidak terasa panas dan nyeri, tetapi setelah

    digaruk semakin meluas dan melebar. Pasien pernah berobat ke puskesmas

    dan mendapat obat berupa salep. Keluhan gatal kemudian dirasakan

    membaik. Pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Pada

    pemeriksaan status dermatologikus Lokasi Ekstremitas Inferior tampak

    makula eritematosa, hiperpigmentasi, berbatas tegas, likenifikasi dengan

    skuama halus pada bagian tepi, ukuran plakat, bentuk lingkaran tidak

    beraturan, lokalisasi soliter.

    VII. DIAGNOSA KERJALiken simpleks kronikus ( Neurodermatitis Sirkumskripta)

    VIII. DIAGNOSIS BANDING1. Liken Planus

    Predileksi: permukaan fleksor pergelangan tangan, batang tubuh, kaki,

    glans penis, medial paha, selaput lendir dan vagina.

    UKK : lesi yang khas berupa papula kecil, datar, poligonal permukaan

    mengkilap, warna keunguan, berangulasi dengan anyaman garis

    keabu-abuan (wickhams striae) pada permukaannya. Di atasnya

    terdapat skuama halus.

    2. PsoriasisPredileksi: scalp. Tengkuk, interskapula, lumbosakral, bagian

    ekstensor lutut dan siku, areola, mamaer, lipatan mamae, umbilicus,punggung kaki dekat pergelangan

    UKK: macula eritematosa yang merata berbatas tegas dengan skuama

    tebal diatasnya. Skuama kasar berlapis-lapis, warna putih transparan,

    bentuk bulat atau lonjong, ukuran bervariasi.

    3. Dermatitis AtopikPredileksi: muka, kepala, tengkuk, lipat siku, pergelangan tangan, fosa

    poplitea

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    7/26

    7

    UKK: edema, vesikel/bula, dapat disertai ekskoriasi. Pada keadaan

    kronik dapat terjadi penebalan kulit/likenifikasi dan hiperpigmentasi.

    IX. PEMERIKSAAN ANJURANHistopatologi

    X. PENATALAKSANAAN1. Non Medikamentosa

    a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya.b. Mencegah garukan dan gosokan pada daerah yang gatalc. Istirahat yang cukupd. Hindari stress psikologise. Menjaga kebersihan kulit dengan mandif. Hindari dari gigitan serangga

    2. MedikamentosaSistemik:

    Antihistamin Loratadine 10 mg tablet 1x1

    Antidepresi Amitriptylin tab 1x1 (malam)

    Topikal:

    Inerson

    Asam Salisilat 3%

    LCD vaseline salep

    XI.

    PROGNOSISQuo ad vitam : bonam

    Quo ad kosmeticum : dubia ad bonam

    Quo ad sanationam : dubia ad bonam

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    8/26

    8

    Effloresensi Pada Pasien Tn. A R

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    9/26

    II. TINJAUAN PUSTAKALIKEN SIMPLEK KRONIKUS (NEURODERMATITIS

    SIRKUMSKRPTA)

    1.1.Definisi

    Liken simpleks kronikus adalah Penebalan kulit dengan skala variable

    yang timbul sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang.

    Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan

    garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu,

    akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan

    pruritogenik (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgim, 2008; Odom RB, 2000).

    Liken simpleks kronikus merupakan proses yang sekunder ketika

    seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah kulit yang spesifik dengan

    atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang dapat mengakibatkan trauma

    mekanis pada kulit yang berakhir dengan likenifikasi. Penyakit ini biasanya

    timbul pada pasien dengan kepribadian yang obsesif, dimana selalu ingin

    menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya (Soter NA, 2003).

    1.2. Sinonim

    Nama lain dari liken simpleks kronikus adalah neurodermatitis

    sirkumskripta, istilah yang pertama kali dipakai oleh Vidal, oleh karena itu

    disebut pula liken Vidal (Djuanda Adhi, 2006).

    1.3. EtioPatogenesis & Patofisiologi

    Penyebab liken simpleks kronikus belum diketahui secara pasti.

    Namun ada berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada

    penyakit ini, faktor penyebab dari liken simpleks kronikus dapat dibagi

    menjadi dua yaitu:

    a. Faktor Eksterna1)Lingkungan

    Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat

    berimplikasi dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    10/26

    10

    gatal. Suhu yang tinggi memudahkan seseorang berkeringat sehingga

    dapat mencetuskan gatal, hal ini biasanya menyebabkan liken

    simpleks kronikus pada daerah anogenital.

    2)Gigitan SeranggaGigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang

    mengakibatkan rasa gatal (Soter NA, 2003).

    b. Faktor Interna1)Dermatitis atopik

    Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan gangguan atopik telah

    banyak dilaporkan, sekitar 26% sampai 75% pasien dengan dermatitis

    atopik terkena liken simpleks kronikus.

    2)PsikologisKecemasan telah dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang

    mengakibatkan liken simpleks kronikus. Kecemasan sebagai bagian

    dari proses patologis dari lesi yang berkembang. Telah dirumuskan

    bahwa neurotransmitter yang mempengaruhi perasaan, seperti

    dopamine, serotonin, atau peptide opioid, memodulasikan persepsi

    gatal melalui penurunan jalur spinal (Soter NA, 2003).

    Stimulus untuk perkembangan liken simpleks kronikus adalah

    pruritus. Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat berhubungan

    dengan gangguan kulit, proliferasi dari nervus dan tekanan emosional.

    Pruritus yang memegang peranan penting dapat dibagi dalam dua kategori

    besar, yaitu pruritus tanpa lesi dan pruritus dengan lesi. Pasien dengan liken

    simpleks kronikus mempunyai gangguan metabolik atau gangguan

    hematologik. Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada penyakitsistemik, misalnya gagal ginjal kronik, obstruksi kelenjar biliaris, hodgkins

    lymphoma, polisitemia rubra vera, hipertiroidisme, gluten-sensitive

    enteropathy dan infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang disebabkan oleh

    kelainan kulit yang terpenting adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak

    alergi dan gigitan serangga (Soter NA, 2003).

    Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronis dapat

    menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    11/26

    11

    nyata dari garukan, maka disebut liken simpleks kronikus. Adanya garukan

    yang terus menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas

    enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan

    dan gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf

    mengandung immunoreaktif CGRP (calcitonin gene-related peptide) dan SP

    (substance P) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo

    nodularis, tetapi tidak pada liken simpleks kronikus. SP dan CGRP

    melepaskan histamine dan sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus.

    Ekspresi faktor pertumbuhan saraf p75 pada membran sel Schwan dan sel

    perineurum meningkat, mungkin ini menghasilkan hiperplasi neural (Djuanda

    Adhi, 2006; Soter NA, 2003).

    Liken simpleks kronikus ditemukan pada kulit di daerah yang mudah

    diakses untuk digaruk. Pruritus memprovokasi garukan dan gosokan yang

    menghasilkan lesi klinis, tetapi patofosiologi yang mendasar tidak diketahui.

    Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang

    cenderung menuju kondisi eczema (yaitu, dermatitis atopik). Suatu hubungan

    antara kemungkinan jaringan saraf pusat dan perifer dan produk sel inflamasi

    dalam persiapan gatal di liken simpleks kronikus. Ketegangan emosional

    pada penderita cenderung mungkin memainkan peran kunci dalam

    mendorong sensasi pruritus, mengarahkan untuk menggaruk yang dapat

    menjadi reflex dan kebiasaan. Interaksi di antara lesi primer, faktor psikis,

    dan intensitas pruritus mempengaruhi tingkat dan keparahan dari liken

    simpleks kronikus (Odom RB, 2000; Hunter John, 2004).

    1.4. EpidemiologiFrekuensi yang tepat pada populasi umum tidak diketahui. Dalam

    suatu studi, 12% dari pasien penua an deng an kulit pruri tus tel ah

    mengalami liken simpleks kronis. Prevalensi tertinggi yaitu pada usia

    dewasa pertengahan dan dewasa lanjut, dengan puncaknya antara usia 30-50

    tahun. Tidak ada perbedaan dilaporkan dalam frekuensi antara ras. Lebih

    sering pada wanita dibandingkan pada pria. Kebanyakan terjadi pada

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    12/26

    12

    pertengahan akhir dewasa,dengan prevalensi tertinggi pada orang berusia 30-

    50 tahun (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgin, 2008).

    1.5. Gejala Klinis

    Gatal yang berat merupakan gejala dari liken simpleks kronikus.

    Menggosok dan menggaruk mungkin disengaja dengan tujuan menggantikan

    sensasi gatal dan nyeri, atau dapat secara tidak sengaja yang terjadi pada

    waktu tidur. Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat

    mengganggu tidur. Rasa gatal memang tidak terus-menerus, biasanya pada

    waktu yang tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk.

    Penderita merasa enak bila digaruk, setelah luka baru hilang rasa gatalnya

    untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Keparahan gatal dapat

    diperburuk dengan berkeringan, suhu atau iritasi dari pakaian. Gatal juga

    dapat bertambah parah pada saat terjadi stress psikologis (Djuanda Adhi,

    2006; Soter NA, 2003).

    Pada liken simpleks kronik, penggosokan dan penggarukan yang

    berulang menyebabkan terjadinya likenifikasi (penebalan kulit dengan garis-

    garis kulit semakin terlihat) plak yang berbatas tegas dengan ekskoriasi,

    sedikit edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang. Bagian

    tengah berskuama dan menebal, sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan

    kulit normal tidak jelas. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak

    eritematosa, sedikit edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang,

    bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan eskoriasi; sekitarnya

    hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis

    dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi. Daerah yang terjadilikenifikasi umumnya akan dirasakan sangat nyaman bila digaruk sehingga

    terkadang pasien tidak menyadari menggaruk dan menjadi kebiasaan (Hogan,

    2011; Rajalaksmi, 2011).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    13/26

    13

    regio dorsum pedis dextra, tampak plak hiperpigmentasi, soliter, bentuk

    oval, ukuran 4 x 6 cm,batas tegas, ireguler, permukaan likenifikasi,

    bagian sentral tampak eritem,sebagian erosi multipel, tepi permukaan

    ditutupi skuama sedang selapis warna putih.

    Letak lesi bisa timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah

    di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva,

    skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral,

    pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. Neurodermatitis di

    daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak

    kecil di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke scalp. Biasanya

    skuamanya banyak menyerupai psoriasis (Hogan, 2011).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    14/26

    14

    Variasi klinis neurodermatitis dapat berupa prurigo nodularis, akibat

    garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu

    tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi

    tertutup krusta dan skuama, lambat laun menjadi keras dan berwarna lebih

    gelap. Lesi biasanya multiple, lokalisasi tersering di ekstremitas; berukuran

    mulai beberapa milimeter sampai 2 cm.

    Temuan histopatologi pada liken simpleks kronis adalah hyperplasia

    epidermal, orthokeratosis, dan hipergranulosis dengan pemanjangan regular.

    Ditemukan sebukan sel radang limfosit dan histiosit di sekitar pembuluh

    darah dermis bagian atas fibroblast bertambah kolagenmenebal (Hogan,

    2011).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    15/26

    15

    Plak dari liken simpleks

    berbatas tegas,

    hiperpigmentasi

    Lichen simplex chronicus

    pada pergelangan kaki.

    permukaan kasar tergores

    (mengkritik), kulit

    menebal

    hiperpigmentasi)

    liken simplek kronis.

    Batas tegas,

    terdapat hiperpigmentasi

    1.6. Pemeriksaan Penunjang

    Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah:

    a. Tes LaboratoriumPada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk

    neurodermatitis sirkumskripta. Tetapi walaupun begitu, satu studi

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    16/26

    16

    mengemukakan bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta

    positif terhadap patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes

    bisa terjadi likenefikasi generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi

    untuk melakukan patch test. Pada pasien dengan pruritus generalisata

    yang kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan

    gangguan hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan,

    juga dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis

    serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron

    binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat

    meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada

    neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium

    hydroksida pada pasien liken simpleks genital untuk mengeleminasi tinea

    cruris (Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008).

    b. HistopatologiPemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis

    neurodermatitis sirkumskripta adalah menunjukkan proliferasi dari sel

    schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular yang cukup besar. Juga

    ditemukan neural hyperplasia. Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan

    area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang

    irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis

    bisa ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadang-

    kadang ditemukan. Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata

    karena adanya jaringan nekrotik papila dermis superfisial. Fibrin dan

    neutrofil bisa ditemukan, walaupun keduanya biasanya ditemukan pada

    penyakit dermatosis yang lain. Pada papillary dermis ditemukanpeningkatan jumlah fibroblas. Pada lesi yang sudah sangat kronis,

    khususnya pada likenifikasi yang gigantik besar, akan tosis dan

    hiperkeratosis dapat dilihat secara gross,danrete ridges tampak ireguler

    namun tetap memanjang dan melebar (Wolff Klauss, A Lowell. et.all.,

    2008).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    17/26

    17

    1.7. Diagnosis

    Diagnosis untuk liken simpleks kronis dapat ditegakkan melalui

    anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pasien dengan

    neurodermatitis sirkumskripta mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau

    lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi.

    Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku,

    lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal

    muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan

    aktivitas dan biasanya gatal timbul intermiten (Wolff Klauss, A Lowell.

    et.all., 2008).

    Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas,

    dan terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi

    (Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008).

    Pada pemeriksaan penunjang histopatologi didapatkan adanya

    hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis dengan

    pemanjangan rate ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan dari

    papil dermis (Djuanda Adhi, 2006).

    1.8. Diagnosis Banding

    Kasus-kasus primer yang umumnya menyebabkan likenifikasi adalah :

    a. Dermatitis kontak alergiDermatitis kontak alergi adalah inflamasi dari kulit yang diinduksi

    oleh bahan kimia yang secara langsung merusak kulit dan oleh sensitifitas

    spesifik, pada kasus penderita umumnya mengeluh gatal pad daerah

    pajanan. Kelainan kulit tergantung pada keparahan dermatitis danlokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematous yang

    berbatas jelas kemudian diikuti dengan edema, papulovesikel, vesikel

    atau bulla. Vesikel atau bulla dapat pecah menimbulkan erosi dan

    eksudasi. Pada fase kronik kulit terlihat kering, skuama, papul,

    likenifikasi, fisura, berbatas tidak tegas (Djuanda Adhi, 2006).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    18/26

    18

    b. Plak psoriasisPsoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik,

    dengan karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih

    keperakan,skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai

    fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Lokasi terbanyak ditemukan

    didaerah ekstensor. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi

    beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat

    autoimun dan residif (Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008; Siregar,

    2004).

    c. Dermatitis seboroikDermatitis seboroik merupakan gangguan papuloskuamosa yang terdapat

    pada daerah kaya sebum seperti kulit kepala, wajah dan punggung.

    Dermatitis ini berhubungan dengan malassezia, abnormalitas imunologis,

    dan aktivasi dari komplemen. Berhubungan erat dengan keaktifan

    glandula sebasea. Biasa terjadi pada bayi umur bulan pertama dan

    mencapai puncak pada umur 18-40 tahun. Kelainan kulit terdiri atas

    eritema dam skuama yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya

    agak kurang tegas (Djuanda Adhi, 2006).

    d. Liken PlanusLesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan dengan warna

    kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering

    ditemukan pada permukaan fleksor dari ekstremitas, genitalia dan

    membrane mukus. Mirip dengan reaksi mediasi imunologis. Liken planus

    ditandai dengan papul-papul yang mempunyai warna dan konfigurasi

    yang khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan berbentuksiku-siku. Gambaran histopatologi: papul menunjukkan penebalan lapisan

    granuloma, degenrasi mencair membrane basal dan sel basal. Dapat pula

    ditemukan infiltrate seperti pita yang terdiri dari limfosit dan histiosit

    pada lapisan dermis bagian atas (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgin,

    2008).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    19/26

    19

    e. Dermatitis atopikPeradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering

    terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan

    peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau

    penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami

    ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit

    pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan

    berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Lokasi dermatitis atopik

    pada lipat siku dan lipat lutut (fleksor) hilang pada usia 2 tahun, pada

    neurodermatitis sirkumskripta pada siku dan punggung kaki (ekstensor)

    dan berlanjut sampai tua (Susan Burgin, 2008; Hunter John, 2002).

    1.9. Penatalaksanaan

    Penatalaksanaan dari neurodermatitis sirkumskripta secara primer

    adalah untuk mengurangi pruritus dan meminimalkan lesi yang ada dan

    menghindarkan pasien dari kebiasaan menggaruk dan menggosok secara

    terus-menerus. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memotong

    kuku pasien, memberikan antipruritus, glukokortikoid topikal atau

    intralesional, atau produk-produk tar, konsultasi psikiatrik, dan mengobati

    pasien dengan cryoterapi, cyproheptadine, atau capsaicin (Wolff Klauss,

    2009).

    a. Steroid topical (Richards, 2010)Pengobatan pilihan karena dapat mengurangi peradangan dan gatal serta

    perlahan-lahan menghaluskan hiperkeratosisnya. Karena lesinya kronik,

    Pentalaksanaannya biasanya lama. Pada lesi yang besar dan aktif, steroid

    potensi sedang dapat digunakan untuk mengobati inflamasi akut. Tidak

    direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum, axilla dan

    wajah). Steroid potensi kuat digunakan selama 3 minggu pada area kulit

    yang lebih tebal.

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    20/26

    20

    1. ClobetasolTopical steroid super poten kelas 1: untuk menekan mitosis dan

    menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan

    menyebabakan vasokonstriksi.

    2. Betamethasone dipropionate cream 0,05%.6,9Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja

    mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit

    polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.

    3. Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 % ointmentUntuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja

    mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit

    polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.

    4. Fluocinolone cream 0.1 % atau 0.05%Topikal kortikosteroid potensi tinggi yang menghambat proliferasi

    sel. Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti peradangan.

    b. Obat oral anti anxietas, sedasi dan antidepresiObat oral dan anti anxietas dapat dipertimbangkan pada beberapa

    pasien. Menurut kebuthan individual, penatalaksanaan dapat dijadwalkan

    setiap hari, pada ssat pasien tidur, atau keduanya. Antihistamin seperti

    dipenhydramine dan hidroxyzine biasa digunakan. Doxepin dan

    clonazepam dapat dipertimbangkan pada beberapa kasus.

    Amitriptilin merupakan antidepresi trisiklik Amitriptilin bekerja

    dengan menghambat pengambilan kembali neurotransmiter di otak.

    Amitriptilin mempunyai 2 gugus metil, termasuk amin tersier sehingga

    lebih resposif terhadap depresi akibat kekurangan serotonin. Senyawa inijuga mempunyai aktivitas sedatif dan antikolinergik yang cukup kuat.

    Obat ini penggunanaya untuk memperbaiki kualitas tidur. Pada

    pemberian oral, Amitriptilin diaborpsi dengan baik, kurang lebih 90%

    berkaitan dengan protein plasma dan tersebar luas dalam jaringan dan

    susunan saraf pusat. Metabolisme di hati berlngsung lambat dan waktu

    paruh 10,3-25,3 jam, kemudian diekskresi bersama urin (Stewarts, 2010).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    21/26

    21

    c. Agen anti pruritusObat oral dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan

    histamin secara endogen. Gatal berkurang, pasien merasa tenang atau

    sedatif dan merangsang untuk tidur. Obat topikal menstabilisasi

    membrane neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi implus saraf

    sehingga memberi aksi anestesi lokal.

    1. DipenhidraminUntuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan

    histamin.

    2. CholorpheniramineBekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel

    efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori.

    3. HidroxyzineReseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamin

    diregion subkortikal sistem saraf pusat.

    4. KlonazepamUntuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptor-

    reseptor di SSP, termasuk sistem limbik dan pembentukan retikular.

    Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.

    d. Agen imunosupresorTacrolimus, Mekanisme kerjanya pada liken simpleks kronik tidak

    diketahui. Dapat mengurangi gatal dan peradangan dengan menekan

    pelepasan sitokin dari sel T. juga menghambat transkripsi gen yang

    mengkode IL-3, IL-4, IL5, GM-CSF, dan TNF- alfa, yang semuanya

    terlibat dalam aktivasi sel T derajat dini. Juga dapat menghambatpelepasan mediator sel mast dan basofil kulit dan mengurangi regulasi

    ekspresi FCeRI pada sel langerhans. Obat dari kelas ini lebih mahal dari

    kortikosteroid topikal. Terdapat dalam bentuk ointment dalam konsentrasi

    0.03% dan 0.1%. indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil.

    e. ImmunodilatorBerasal dari ascomycin, suatu bahan alami yang diproduksi oleh jamur

    streptomyces hygroscopicus var asmyeticus, bekerja menghambat

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    22/26

    22

    produksi dan pelepasan sitokin inflamasi dari sel T teraktivasi secara

    selektif dan berikatan dengan reseptor imunofilin sitosolik makrofilin 12

    (cytosolic immunophili receptor macrophilin-12). Menghambat kompleks

    yang menghambat kalsineurin fofatase, yang kemudian memblokir

    aktivasi sel T dan pelepasan sitokin. Atropi kutaneus tidak didapati pada

    percobaan klinis yang merupakan kelebihan terhadap kortikosteroid

    topical. Indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil (Wolff

    Klauss, 2009).

    1.10. Prognosis

    Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah :

    a. Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapatmembantu untuk mengurangi proses likenifikasi.

    b. Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahanpigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.

    c. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosionalyang meningkat.

    Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien.

    Penyebab utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali.

    Pencegahan pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini

    (Pedoman diagnosis, 2007).

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    23/26

    23

    III. PEMBAHASAN

    Pasien mengeluh gatal di daerah sekitar mata kakikiri sejak 1 tahun yang lalu, kambuh-kambuhan.

    Keluhan gatal --> saat istirahat

    Muncul saat pasien mendapatkan masalah ataupekerjaan menumpuk

    Tidak diperberat dengan keringat atau terkenadetergen

    Terjadi penebalan kulit akibat garukan

    Anamnesis

    Riwayat Alergi (-)

    Riwayat penyakit DM(-), Hipertensi (-), Asma (-)RPD

    Riwayat penyakit yang sama, alergi debu, dingin,makanan, asma disangkal

    Riwayat penyakit DM (-), Hipertensi (-)RPK

    Ekstremitas Inferior

    Effloresensi : Tampak makula eritematosa,hiperpigmentasi, berbatas tegas, likenifikasi

    dengan skuama halus pada bagian tepi,

    ukuran plakat, bentuk lingkaran tidak

    beraturan, lokalisasi soliter.

    St dermatologis

    Sistemik:

    Antihistamin Loratadine 10 mg tablet 1x1

    Antidepresi Amitriptylin tab 1x1 (malam)

    Topikal:

    Inerson

    Asam Salisilat 3%

    LCD vaseline salep

    Penatalaksanaan

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    24/26

    Sesuai dengan menurut NA Soner pada Fitzpatricks Dermatology in General

    Medicine dan Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI bahwa:

    Penderita mengeluh gatal sekali, Rasa gatal memang tidak terus menerus,biasanya pada waktu tidak sibuk (saat istirahat)

    Gatal yang muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Penderita merasaenak setelah digaruk yang dilakukan secara sengaja untuk mengurangi

    sensasi gatal dan nyeri.

    Gatal dapat bertambah parah pada saat terjadi stress psikologis dantekanan emosi, terutama pada seseorang yang memiliki kecemasan.

    Sesuai dengan Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI, Hogan dan Wolff

    Klauss, A Lowell. et.all.:

    Lokalisasi lesi yang paling sering di ekstrimitas. lesi bisa terjadi padadaerah tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan

    punggung kaki

    Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikitedematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah

    Anamnesis

    Pasien mengeluh gatal di daerah sekitar mata kaki kiri sejak 1 tahunyang lalu, kambuh-kambuhan.

    Keluhan gatal saat istirahat Muncul saat pasien mendapatkan masalah atau pekerjaan menumpuk Tidak diperberat dengan keringat atau terkena detergen Terjadi penebalan kulit akibat garukan

    Status Dermatologis

    Lokasi: Ekstremitas Inferior Effloresensi : Tampak makula eritematosa, hiperpigmentasi, berbatas

    tegas, likenifikasi dengan skuama halus pada bagian tepi, ukuran

    plakat, bentuk lingkaran tidak beraturan, lokalisasi soliter.

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    25/26

    25

    berskuama dan menebal, likenifikasi dan eskoriasi; sekitarnya

    hiperpigmentasi, batas jelas.

    Sesuai djuanda adhi, Wolff Klauss, A Lowell. et.all:

    Penatalaksanaan pada penyakit ini adalah tujuanya untuk mengurangi pruritus dan

    meminimalkan lesi dengan:

    a. Antipruritus (antihistamin Reseptor H1 yaitu contohnyacholorpheniramine)

    b. Antidepresi yang mempunyai aktivitas sedatif. contoh: Amitriptylinc. Obat topikal menstabilisasi membrane neuron dan mencegah inisiasi dan

    transmisi implus saraf sehingga memberi aksi anestesi lokal.

    Penatalaksanaan

    Sistemik:Antihistamin Loratadine 10 mg tablet 1x1

    Antidepresi Amitriptylin tab 1x1 (malam)

    Topikal:Inerson

    Asam Salisilat 3%

    LCD vaseline salep

    Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah :

    a. Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapatmembantu untuk mengurangi proses likenifikasi.

    b. Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahanpigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.

    Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosional yang

    meningkat

  • 7/23/2019 PRESUS Neurodermatitis Aditya Novita

    26/26

    DAFTAR PUSTAKA

    Djuanda Adhi. 2006 Neurodermatitis Sirkumskripta. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit

    dan Kelamin Edisi kelima. Jakarta: FKUI. h. 147-148.

    Hunter John, John Savin, Marck Dahl editors. 2002. Clinical Dermatology:

    eczema and dermatitis. 3rd edition Blackwell publishing: p. 70.

    Hogan D J, Mason S H. 2011.Lichen Simplex Chronicus. Diakses dari www.emedicine.com

    24 Februari 2011.

    Odom RB, James WD, Berger TG. 2000. Atopic dermatitis, eczema,

    andnoninfectious immunodeficiency disorders. Dalam:Andrews Diseasesof

    The Skin: Clinical Dermatology. 9th ed. Philadelphia: WBSaunders. h. 69-94

    Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah

    Denpasar tahun 2007.

    Rajalakshmi R, Thappa DM, Jaisankar TJ, et al. 2011. Lichen simplexchronicus of

    anogenital region: Aclinico-etiological study. Indian J Dermat ol Venereol Leprol Jan-

    Feb; 77(1) : 28-36.

    Richards R N. 2010. Update on intralesional steroid: focus on dermatoses. J Cutan

    Med Surg Jan-Feb; 14(1).

    Siregar. 2004.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi Dua. Jakarta: EGC.

    Soter NA. 2003. Numular Eczema and Lichen Simpleks Chronicus/Prurigo

    Nodularis. Dalam: Freedberg IM, Eizen AZ, Wollf K, Austen KF,

    Goldsmith LA, Katz SI, eds. Fitzpatricks Dermatology in General

    Medicine. 7th ed. New York : Mc. Graw Hill: p. 160-162.

    Stewart KM. 2010. Clinical care of vulvar pruritus, with emphasis on onecommon

    cause, lichen simplex chronicus. Dermat ol Clin Oct; 28(4): 669-80.

    Susan Burgin, MD. 2008. Numular Eczema and Lichen Simplex Chronic/Prurigo

    Nodularis. Dalam: Fitzpatrick TB, Eizen AZ, Woff K,Freedberg IM, AutenKF, penyunting: Dermatology in generalmedicine, 7th ed, New York: Mc

    Graw Hill: p. 158-162.

    Wolff Klauss, A Lowell. et.all. 2008. Lichen Simplex Chronicus and Prurigo

    Nodularis. Dalam: Fitzpatricks Dermatologyin General Medicine7th

    Edition volumes 1 & 2. New York: Mc Graw Hill Medical: p. 198-200.

    Wolff Klauss. 2009. Lichen Simplex Chronicus. Dalam: Fitzpatricks Color Atlas

    & Synopsis of Clinical Dermatology 6th Edition. New York: McGraw Hill

    Medical: p. 42-43.

    http://www.emedicine.com/http://www.emedicine.com/