bab ii revisi

Download BAB II Revisi

Post on 13-Oct-2015

7 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sumber air

TRANSCRIPT

27

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1. TINJAUAN PUSTAKA

II.1.1.Air

Air yang terdapat di alam memiliki jumlah yang relatif konstan, tetapi tidak diam, namun bersirkulasi akibat pengaruh cuaca yang dikenal dengan siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah suatu proses yang bertujuan untuk mempertahankan keberadaan air dan merupakan suatu proses alami untuk membersihkan lingkungan air secara mandiri (Slamet, 2011).

Siklus hidrologi merupakan suatu proses yang meliputi proses penguapan, kondensasi, presipitasi, dan pengaliran. Penguapan oleh air permukaan akibat sinar matahari akan menghasilkan uap air yang kemudian memasuki atmosfer berubah menjadi awan dan dalam kondisi tertentu akan mengalami pendinginan berubah menjadi tetesan air sehingga jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan. Air hujan akan mengalir langsung ke tempat tertentu membentuk air permukaan atau meresap dan tersimpan ke dalam tanah menjadi air tanah (Marsono, 2009). Siklus hidrologi akan menghasilkan berbagai sumber air tawar yang terdiri dari :

1. Air Permukaan

Sumber utama air permukaan berasal dari sungai, selokan, rawa, parit, bendungan, danau, laut, dan air terjun. Sebagian besar air permukaan sudah tercemar akibat aktivitas manusia, fauna, flora, dan zat-zat lain, kecuali air terjun karena berasal dari pembendungan alam dan jatuh ke permukaan akibat gaya gravitasi. Air permukaan adalah sumber penting sebagai bahan baku air bersih, maka harus diperhatikan kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya (Chandra, 2006).

2. Air Angkasa

Air angkasa dapat berupa air hujan, salju, dan es. Air hujan sangat bergantung pada kualitas udara yang dilaluinya pada saat turum ke permukaan bumi, karena air hujan akan melarutkan partikel debu dan gas yang terdapat di udara.

3. Air Tanah

Air tanah bersumber dari air hujan yang turun ke permukaan bumi dan menyerap ke dalam lapisan tanah menjadi air tanah. Dalam prosesnya, air tanah harus melewati beberapa lapisan tanah sehingga terjadi kesadahan air. Keadaan ini menyebabkan air tanah mengandung berbagai mineral dalam konsentrasi tertentu (Chandra, 2006).

Air tanah dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

a. Air tanah dangkal

Air tanah dangkal memiliki kualitas yang cukup baik, namun dari segi kuantitas kurang baik karena sangat bergantung pada musim. Air ini didapatkan pada kedalaman 15 meter dan dimanfaatkan sebagai sumber air minum maupun air bersih melalui sumur-sumur dangkal.

b. Air tanah dalam

Air tanah dalam didapatkan pada kedalaman 100-300 meter dan harus menggunakan bor untuk memasukkan pipa kedalamnya. Air tanah dalam terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama sehingga sudah mengalami proses penyaringan berulang. Dari segi kualitas air tanah dalam lebih baik dibandingkan air tanah dangkal.

c. Mata air

Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Sumber mata air dapat berasal dari lereng gunung atau daerah dataran rendah. Mata air merupakan sumber air yang sangat baik untuk digunakan sebagai air minum (Alamsyah, 2006).II.1.1.1. Kualitas Baku Mutu Air Minum

Air sangat penting bagi kehidupan manusia dan diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti untuk minum, masak, mandi, dan mencuci. Kebutuhan air untuk makan dan minum harus sangat diperhatikan, maka kualitas air tersebut diusahakan memenuhi persyaratan kesehatan untuk dapat di minum (Notoatmodjo, 2003).

Kualitas baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar normal suatu zat, energi, makhluk hidup atau komponen yang ada atau harus ada atau suatu pencemar dalam kisaran tertentu. Maka, perlu dilakukan pengukuran atau pengujian kualitas air berdasarkan parameter-parameter tertentu menggunakan metode tertentu (Mulia, 2005).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001, disebutkan tentang pengujian mutu air yang ditetapkan berdasarkan parameter fisika, parameter kimia, dan parameter bakteriologis.

Beberapa persyaratan air minum yang layak menurut Sujana Alamsyah (2007) dalam bukunya, terdiri dari :

a. Syarat Fisik

1. Derajat Kekeruhan : air yang baik adalah jernih dan tidak keruh.

2. Tidak berbau dan tidak berasa.

3. Jumlah padatan terapung : padatan dalam air minum yang layak tidak boleh melebihi batas maksimal yang telah ditentukan, yaitu 1.000mg/l.

4. Suhu : normalnya air yang baik memiliki temperatur normal 3C dari suhu kamar (27C).

5. Warna : air yang baik tidak berwarna, harus jernih, dan tidak keruh. Apabila berwarna bias disebabkan karena adanya bahan kimia atau mikroorganisme yang terlarut dalam air.

b. Syarat Kimiawi1. Derajat Keasaman (pH) : air yang baik dan layak minum memiliki pH netral (pH = 7). Batas pH minimum dan maksimum berkisar 6,5 9,0.

2. Kandungan Bahan Kimia Organik : air yang baik memiliki kandungan bahan kimia organic dalam jumlah sesuai batas yang telah ditentukan.

3. Kandungan Bahan Kimia Anorganik dan kandungan bahan kimia yang terkandung tidak melebihi batas yang ditetapkan. c. Syarat Bakteriologis

Air yang digunakan untuk minum, selain harus memenuhi persyaratan fisik dan kimiawi, tetapi juga harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Bakteri yang menjadi indikator adanya pencemaran oleh bakteri atau virus adalah terdapatnya bakteri Coliform dalam air tersebut.Persyaratan yang harus dipenuhi oleh air agar dapat dijadikan sumber air minum harus sesuai standar mutu air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES /PER/IV/2010 sesuai dengan standar WHO.

Tabel 2.1. Persyaratan Kualitas Air MinumNo.ParameterSatuanKadar Maksimum yang DiperbolehkanKeterangan

Fisika

1.Bau-Tidak berbau

2.Zat Padat Terlarutmg/l1000

3.KekeruhanSkala NTU5

4.Rasa-Tidak berasa

5.Suhu3C dari suhu udara

6.WarnaSkala TCU

Kimia

Kimia Anorganik

Air raksa (Hg)mg/liter0,001

Aluminium (Al)mg/liter0,2

Arsen (As)mg/liter0,05

Besi (Fe)mg/liter0,3

Kesadahan (CaCO3)mg/liter500

Klorida (Cl)mg/liter250

Mangan (Ma)mg/liter0,1

Nitrat (NO3)mg/liter10

Nitrit (NO2)mg/liter1,0

pH-6,5 s/d 8,5

Sianida (Si)mg/liter0,1

Sulfat (SO4)mg/liter400

Tembaga (Cu)mg/liter1,0

Timbal (Pb)mg/liter0,05

Kimia Organik

Benzenemg/liter0,1

Chloroformmg/liter0,03

DDTmg/liter0,03

Detergenmg/liter0,05

Pestisida Totalmg/liter0,10

Zat Organik (KMnO4)mg/liter10

Mikrobiologi

Koliform tinja/100 mlJumlah0

Total Koliform/100 mlJumlah0

Radioaktif

Gross Alpha ActivityBq/liter0,1

Gross Beta ActivityBq/liter1,0

Menurut SK. Dirjen PPM dan PLP No. 1.PO.03.04.PA.91 dan SK JUKLAK PKA Tahun 2000/2001, kualitas air bersih dibagi menjadi 5 kategori berdasarkan kandungan bakterinya, yaitu (Purbowarsito, 2011) :

1. Air bersih kelas A kategori baik dengan kandungan Coliform kurang dari 50MPN/100ml.2. Air bersih kelas B kategori kurang baik dengan kandungan Coliform 51-100 MPN/100ml.3. Air bersih kelas C kategori jelek dengan kandungan Coliform 101 1000 MPN/ 100ml.4. Air bersih kelas D kategori amat jelek dengan kandungan Coliform 1001 2400 MPN/100ml.5. Air bersih kelas E kategori sangat amat jelek dengan kandungan Coliform >2400 MPN/100ml.II.1.2. Air Sumur

Air sumur adalah air yang berasal dari dalam tanah dengan lapisan air yang berbeda-beda. Air sumur berdasarkan lapisan airnya dibedakan menjadi air sumur dangkal dan air sumur dalam. Air sumur dangkal memiliki kedalaman 5 15 meter dari permukaan tanah dan biasanya tidak begitu baik akibat kontaminasi kotoran permukaan tanah. Air sumur dalam dengan kedalaman lebih dari 15 meter sebagian besar sudah cukup baik untuk dijadikan sumber air minum (Notoatmodjo, 2003).II.1.2.1Persyaratan Teknis Air Sumur

Proses pembuatan sumur air harus diperhatikan bahwa air yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci dengan syarat air tersebut harus bernilai baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Hanif Fakhrurroja (2010), dalam membuat sebuah sumur air harus diperhatikan persyaratan teknisnya, yaitu :

a. Konstruksi Sumur

Dalam pembuatan sumur, perlu diperhatikan konstruksi sumur airnya meliputi :

1. Sumur air harus memiliki dinding atau tembok bagian atas pada jarak 3 meter dari permukaan tanah agar tidak terjadi perembesan air dari permukaan tanah yang dapat merusak atau mengkontasminasi kualitas air bersih.

2. Pada bagian atas sumur harus diberi tutup agar kontaminan tidak merusak air yang bersih menjadi kotor.

3. Kedalaman air sebaiknya lebih dari 15 meter agar lebih aman dari pencemaran.

4. Air sumur harus diberi antai kedap air selebar 1 1,5 m2 untuk mencegah terjadinya pengotoran dari luar (Sutrisno, 2004).b. Pemilihan Letak Sumur

1. Jarak sumur air dengan jamban

Letak sumur air tidak boleh berdekatan dengan jamban atau kamar mandi agar tidak terjadi kontaminasi saluran pembuangan dengan jaringan sumur air tanah. Apabila tanah yang berada di sekitar sumur merupakan tanah liat, jarak yang baik minimal 5 meter. Namun, jika tanahnya berpasir, jarak minimal antara sumur dengan jamban adalah 7,5 meter.

2. Jarak sumur air dengan septictankJarak antara sumur air dengan septictank sebaiknya 10 meter atau lebih. Namun, jarak tersebut menjadi suatu masalah bila rumah tersebut terletak pada daerah padat penduduk. Selain itu, dapat saja jarak antara sumur air dengan septictank sudah 10 meter, tetapi dengan septictank tetangga sebelahnya kurang dari 10 meter. Untuk menentukan letak sumur air dengan septictank dapat diatasi dengan cara mengetahui arah aliran tanahnya, sehingga dapa